Stay in touch
Subscribe to our RSS!
Oh c'mon
Bookmark us!
Have a question?
Get an answer!

sebuah cinta abadi

1 komentar

Sebuah Cinta Abadi yang pernah ada di Bumi..

Sebuah kisah Cinta Sejati, Kisah nyata yg pernah terjadi di Bumi ini…
Sekian ratus tahun yang lalu…
Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya… seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingung…. hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu… namun, rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.
Tak berapa lama kemudian….
seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana.
Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut.
Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa.
Namun, ketika akan mengetuk pintu… terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur…. ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.
Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya.
Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah..
di depan pintu…
dengan udara malam yang dingin melilit…
hanya beralaskan selembar sorban tipis.
Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi..
karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah…
Dan ternyata, di dalam rumah..
persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya..
Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu.
Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.
Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.
malam itu… tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana… karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan.. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.
dan Nun jauh di langit….
ratusan ribu malaikat pun bertasbih….
menyaksikan kedua sejoli tersebut…
SUBHANALLAH WABIHAMDIH
betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina
terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona…
saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati…
Tahukah Anda… siapa mereka..?
Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.
Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.
Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak.
dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.
Amiin…amiin ya rabbal’alamiin….

1 komentar:

cerita islami

1 komentar

Cerita Islami Penuh Hikmah : Cinta Kasih



Suatu ketika, Rasul saw duduk sambil memangku salah seorang putranya. Karena kasih sayang yang mendalam, beliau tak henti-hentinya memeluk dan menciumi putra mungilnya itu.
Ketika itu, salah seorang dari pemuka Arab Jahiliah datang menghampiri beliau seraya berkata, “Wahai Muhammad! Aku mempunyai sepuluh anak, dan sampai sekarang tak satu pun dari mereka yang pernah aku cium.”
Rasul saw sangat marah dengan ucapan orang itu hingga berubah raut wajahnya dan memerah, lalu berkata, “Man la yarham la yurham” (barang siapa yang tidak mengasihi dan menyayangi (sesamanya), maka dia juga tidak akan dikasihi dan disayangi (oleh Allah)).
Beliau menambahkan, “Apa yang dapat aku perbuat, jika Allah telah mencabut rahmat (belas kasih) dari hatimu!”

1 komentar:

Kisah Nyata

0 komentar

Izinkan Aku Jadi Bagian Cinta Suamimu (Kisah Nyata)

 
 
 
 
 
 
13 Votes

Aku, seorang akhwat periang (setidaknya, begitulah yang tampak dari luar), berusia 22 tahun. Hidupku penuh dengan kesedihan, sejak kecil sampai tumbuh besar jarang ku kecap bahagia. Tapi ku kelabui dunia dengan sosok ku yang ceria dan penuh canda. Seringkali teman-temanku bertanya, “Ya ukhty, bagaimana caranya supaya tidak pernah sedih seperti anti?”, hanya senyum yang bisa ku beri untuk menjawab pertanyaan yang sesungguhnya pun ingin ku tanyakan pada mereka yang hidupnya bahagia tanpa cela. Tapi sudahlah, tak kan ku ceritakan kisah sedih masa kecilku, ku hanya akan mengisahkan pencarianku akan bahagia.
Dua tahun lalu, tepatnya saat usiaku 20 tahun, aku mulai berfikir untuk melepas kesendirian, ku utarakan niatku pada seorang akhwat senior yang memang sudah beberapa kali menawariku untuk “ta’aruf” dengan beberapa ikhwan yang semuanya kutolak karena berbagai alasan. Sampai ku mengenalnya, lewat sebuah situs pertemanan. Dia, Ubaid (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di timur tengah. Sosoknya yang begitu dewasa, santun, lagi berilmu. Segala yang kucari ada padanya. Sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang anak. Kutepis hasratku untuk mengenalnya lebih jauh.
Hari demi hari, entah kenapa aku semakin kagum padanya. Walau belum pernah bertatap muka, tapi diskusi kami lewat “chat”, kedalaman ilmunya, keindahan susunan kata-katanya, sungguh meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatiku. Aku mulai jatuh hati padanya. Ubaid, pria beristri itu!
Ternyata rasa-ku tak bertepuk sebelah tangan. Hari selanjutnya ia menelponku, dan ia menanyakan pandanganku tentang polygamy. Tentu aku menjawab bahwa polygamy adalah sunnah. Sunnah yang dibenci kebanyakan orang. Oleh sebab itu, aku kagum pada mereka yang bisa menjalankannya. Pada akhwat-akhwat tangguh yang mampu mengalahkan egoisme dan “hati”nya untuk berbagi orang yang paling dicintainya. Bukankah tak akan sempurna iman seseorang sampai ia mampu memberikan pada saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri? Blah blah blah, panjang lebar penjelasanku saat itu. Ubaid mendengarkan, lalu berkata : “ما شاء الله, seandainya semua istri berfikiran seperti anti”. “Maukah anti menjadi permaisuri kedua di istanaku?”
Semburat jingga langit sore itu menjadi saksi bahagiaku mendengar permintaannya. Tapi syukurlah logika-ku masih berjalan. Ku katakan padanya “Bagaimana mungkin antum meminta ana menjadi istri antum sedangkan bagaimana rupa ana-pun antum belum tau? Juga bagaimana nanti respon keluarga ana dan keluarga antum, mungkinkah mereka akan menerima?” Dia hanya diam. Lalu kutanya “Apakah istri antum mengetahui, antum ingin berta’addud?” Dia menjawab “Tidak, tapi pemahamannya sudah baik, insya Allah istri ana akan menerima”. Tersenyum aku mendengarnya. Lalu kami sudahi percakapan sore itu.
“Lebih baik kamu ga usah nikah selamanya daripada jadi istri kedua!” Teriak ibuku, saat ku tanyakan pendapatnya tentang polygamy. Padahal aku belum menanyakan bagaimana pendapatnya jika akulah perempuan yang dipolygamy itu.
Kuutarakan keberatan ibuku kepada Ubaid. Ibuku memang sering melihat contoh polygamy orang-orang tidak berilmu yang hanya mengedepankan nafsu. Itu sebabnya beliau begitu menentangnya. Walau berpuluh kali kukatakan pada ibuku bahwa polygamy yang didasari ilmu dan ketakwaan pada Allah tentu akan berbeda cerita.
Ubaid memintaku untuk terus mendakwahi ibuku sampai beliau mau menerima syariat ta’addud. Diapun melakukan hal yang sama pada istrinya. Meyakinkannya untuk rela berbagi denganku.
Pelan namun pasti, ibuku akhirnya luluh. Beliau tidak lagi mencaci pelaku polygamy, apalagi setelah kuterangkan tentang hukum menolak syari’at atau mengingkari ayat AlQuran. Begitulah ibuku, menentang di awal, kemudian luluh setelah hujjah di tegakkan. الحمد لله . Semoga beliau selalu dalam lindungan dan rahmat-NYA.
Kusampaikan kabar gembira itu pada ubaid lewat sebuah pesan singkat. Dibalasnya dengan “Alhamdulillaah, insya Allah liburan musim panas ini, ana akan menikahi anti”. Senang hatiku tak terkira.
Empat bulan masa penantian terasa begitu lamaaaa.. Tertatih menjaga hati.. Karena memang cara ta’aruf kami tidak sepenuhnya benar.. Kami sering berkomunikasi lewat chat, telpon, dan sms.. Astaghfirullaah..
Hari yang dinanti pun tiba. Ubaid pulang ke Indonesia. Sendiri. Tidak dengan anak istrinya. Pertemuan pertama, semua masih terasa sempurna. Begitupun saat dia meminangku pada kedua orang tuaku. Sosoknya yang “charming” membuat orang tuaku seolah lupa dengan statusnya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hingga diakhir pertemuan itu seorang kerabat mengingatkan. Karena Ubaid meyakinkan bahwa pernikahan kami atas izin dan restu istri pertamanya, orang tuaku akhirnya menyerahkan segala keputusan kepadaku. Tentu saja aku menerimanya. Dengan hati berbunga!
Ikhwan nan lucu, cerdas, berilmu dan tampan itu, akan menjadi suamiku! Gadis mana yang tak bahagia dipinang pria sepertinya?
Setelah tanggal disepakati, Ubaid pamit untuk pulang ke kampung halaman dan menjemput orang tuanya. Dia akan kembali lagi bulan depan karena banyak jadwal mengisi kajian di kampung halamannya selama liburan musim panas.
Pada tanggal yang disepakati, Ubaid datang ke rumah. Tapi tidak dengan orang tuanya. Karena ternyata orang tuanya tidak merestui rencana pernikahan kami. Orang tuaku pun tidak akan merestui jika pernikahan ini tidak mendapat restu dari keluarga Ubaid. Buyar sudah rencana kami untuk menikah. Karena Ubaid tidak juga mendapat restu orang tuanya sampai masa liburannya berakhir. Dia kembali ke timur tengah untuk melanjutkan study, dan tentu saja untuk kembali pada istri dan anaknya. Cemburu kah aku? Ah.. Aku bahkan tak berhak sedikitpun untuk cemburu!
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Ingin melupakannya saja, tapi rasa untuknya sudah terhujam sedemikian dalam. Astaghfirullaah. Ampuni aku ya Allaah.
Ubaid memintaku untuk menunggu. Dia berjanji akan menikahiku musim panas tahun depan. Aku yang dungu pun menunggu!! Setahun berlalu, beberapa proposal taaruf sudah kutolak dengan alasan “sudah ada calon”. Intensitas komunikasiku dengan Ubaid sudah jauh berkurang. Selain karena kesibukannya menghadapi ujian, juga demi menjaga hubungan kami agar tidak melewati batas.
Hingga tiba masa yang kunantikan. Liburan musim panas tahun berikutnya! Ubaid pulang ke Indonesia dengan istri dan dua anaknya! Ya, DUA anaknya. ternyata istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka.
Kunantikan janjinya. Pekan pertama, kedua, dan ketiga. Saatnya Ubaid datang dan menikahiku! Tapi tak ada kabar darinya! Kutelpon seorang akhwat temanku yang juga adalah tetangganya. temanku mengabarkan, Ubaid sedang menjaga istrinya di Rumah Sakit! Ternyata pekan lalu, istrinya mencoba bunuh diri dan mengancam akan membunuh bayinya setelah mengetahui rencana pernikahan kami! Allahul musta’an
Saat itu juga ku mantapkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Walau sedikit terlambat! Ternyata Ubaid tidak pernah menyatakan niatnya menikahiku kepada istrinya, dia berencana melakukannya diam-diam. Dan dia juga tidak pernah memberitahuku bahwa istrinya mengidap depresi berat.
Singkat kata, aku menyiakan 1,5 tahun usiaku untuk menunggu seseorang yang tak layak kutunggu!
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah fulanah diatas?
Poligamy memang adalah sunnah yang sangat mulia. Apalagi sunnah yang satu ini seringkali di anak tirikan bahkan oleh umat muslim sendiri. Jadi tak perlu lagi di ragukan atau di perdebatkan tentang hukum dan keutamaannya.
Justru yang patut kita soroti adalah adab “calon” pelaku poligamy.
Betapa sering kita jumpai kisah seperti di atas walau mungkin tidak sedramatis itu? Betapa banyak wanita-wanita yang harus “patah hati” karena merasa di permainkan oleh “calon pelaku poligamy”? Setelah menabung harap, ternyata si ikhwan hanya “coba-coba”. Ternyata ia belum benar-benar siap dan belum “menyiapkan” keluarganya.
So, bapak-bapak, kalau mau nikah lagi yang ‘wise’ ya. Jangan grusa grusu cari akhwat dulu kalau belum benar-benar siap dan sanggup bersikap “jantan” menghadapi semua rintangan .
Walaupun izin dan restu istri/keluarga tidak wajib ada, tapi setidaknya akan mengurangi banyak hal tidak menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mau lanjut tanpa izin dan restu keluarga, silahkan saja, asal mampu menanggung segala resiko dan akibatnya. Jangan malah lari di tengah jalan, sementara ada akhwat yang menangis karena terlalu awal menabung harap.
Untuk saudari-saudariku tercinta di luar sana, jangan gampang “main hati”.. Buang jauh-jauh rasa cinta dan sejenisnya sampai akad sudah terucap.. selain menghindarkan diri dari dosa juga menghindarkan diri dari sakit hati insya Allah..
(Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang akhwat yang bersangkutan,,tapi untuk info detailnya sengaja di samarkan.)

0 komentar:

kisah cinta Faizan dari Pakistan

0 komentar

Kisah Cinta Sedih Faizan Dgn Seorang Gadis Arab Saudi

Namaku Faizan, aku dari Pakistan, ini adalah kisah nyata antara aku dan Hana yang terjalin di Internet.
Aku bertemu dengan seorang gadis di sebuah situs bahasa yang menyediakan layanan mengobrol melalui suara secara online. Aku selalu menggunakan layanan komunikasi ini hingga suatu hari aku menemukan Hana yang tinggal di Arab Saudi. Aku bicara dengannya tidak lama kemudian dan memberikan aku id skype yang menandai keintiman obrolan kami berdua di dunia maya.
Aku bicara dengannya hari itu selama satu jam. Ketika itu sudah larut malam di tempat dimana aku tinggal jadi aku tidak bisa bicara dengannya terlalu lama. Hari berikutnya dia online dan mengatakan kalau aku seharusnya jadi kakaknya. Aku terkejut mendengarnya dan dia mengatakan aku akan jatuh cinta jika aku terlalu sering bicara dengannya meski kapasitasnya hanya di dunia maya. Mendengar pendapat Hana itu, aku berbohong padanya bahwa aku sedang jatuh cinta dengan seseorang di sini.
Sulit bagi masyarakat non muslim untuk memahami situasi ini tapi tidak dengan masyarakat muslim seperti di Arab Saudi dimana para gadis tidak boleh bicara dengan para pria yang menjawab mengapa dia mengatakan hal seperti itu.
Setelah hari itu aku sangat marah karena aku sedang punya banyak masalah. Dia bertanya kenapa aku marah-marah, aku bilang saja kalau aku sedang punya banyak masalah kemudian dia mencoba untuk meyakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja, dia akan berdoa untukku dan tanpa aku sadari Hana menyatakan cintanya padaku. Aku syok dan terkejut mendengarnya. Budaya Arab Saudi sangat berbeda dengan budaya dari belahan benua lain seperti di Eropa dan Asia.
Aku bertanya kenapa dia mencintaiku dan dia menjawab dia tidak tahu kemudian menghilang begitu saja selama beberapa hari. Hana jarang muncul dalam pikiran dan mimpiku tapi ketika dia online kembali aku mulai merasakan sesuatu.
Aku menanyakan seputar foto yang dia kirim ke aku beberapa hari yang lalu, yang hanya menampilkan matanya, aku bilang kenapa fotonya seperti itu dan aku hanya menerima jawaban bahwa ia tidak bisa menunjukkan foto wajah yang sesungguhnya ke aku. Di Arab Saudi para wanita selalu memakai cadar dimana kalian hanya bisa melihat mata mereka.
Jadi aku bilang aja ke dia kalau itu bukan masalah dan dia menunjukkan sejumlah foto-foto kamar dan rumahnya, hidupnya seperti seorang ratu yang kaya raya dan menyenangkan.
Aku selalu memimpikan seorang ratu akan datang padaku dan situasi ini mirip dengan kehidupan Hana. Tampaknya aku telah menemukan ratu itu dalam hidupku. Kemudian aku memberikan dia nomor hpku dan kami mulai mengobrol. Dia sering menelponku tetapi aku tidak bisa menelpon balik karena biaya komunikasi yang terlalu mahal.
Ketika aku menulis sebuah pesan untuk Hana, aku tiba-tiba menerima pesan yang menggambarkan perasaan kecewa Hana bahwa aku ini tidak mencintainya.
Aku tidak yakin dengan apa yang sedang aku tulis dan apakah aku mencintainya tapi dia mulai menangis melalui Skype-
dan aku bahkan bisa mendengar suaranya. Aku mencoba untuk menenangkan dia tapi dia hanya membisu dan kemudian mematikan mic.
Sesuatu yang salah terjadi pada diriku ketika aku mulai bermimpi menikahi seorang gadis yang memakai cadar dan namanya Hana. Aku menceritakan mimpiku itu dan Hana pun mengalami hal yang sama. Aku memaksa dia untuk memberitahukan aku mempinya dan dia mencerikan apa yang dia rasakan tentang aku.
Setelah itu Aku mulai berpikir bahwa aku sedang jatuh cinta padanya karena kerjaku hanya miscall dia dan setelah itu dia menelpon dan mulai bicara mendengarkan suaranya.
Suatu hari dia bilang ke aku orang tuanya ingin menikahkan dia dengan sepupunya.
Dia menangis dengan situasi tersebut sambil mengutarakan isi hatinya bahwa Hana ingin menikah denganku.
Aku mulai dihampiri rasa takut yang luar biasa, dia akan segera meninggalkan aku sendirian. Aku sendiri belum yakin akan perasaanku dan terus meyakinkan Hana bahwa kami akan menikah suatu hari nanti meski aku sadari ini sulit terjadi mengingat aku tinggal di Pakistan sementara Hana di Arab Saudi.
Di hari yang sama aku memaksa dia untuk mengirimkan aku foto dia yang sesungguhnya tanpa mengenakan cadar tapi dia menolak dan memberitahukan aku kalau sepupu dan orang tuanya akan datang melamar pada pukul 4 sore.
Sejak pagi itu aku bilang ke dia kalau aku hanya akan mengirim pesan tertulis dan tidak mau bicara tapi aku ternyata tidak dihiraukan dan malahan Hana menjawab kalau itu bukanlah masalah baginya. Ketika aku sedang menulis pesan untuk Hana, aku menerima sebuah pesan yang mengatakan kalau dia harus pergi dan di akhir dia juga bilang kalau dia berdoa untukku yang ada di sini.
Hana tiba-tiba menelpon hanya untuk mendengar suaraku dan menutup teleponnya dimana setelah itu aku pergi tidur. Ketika aku bangun aku melihat sebuah pesan yang ditulis dalam bahasa Arab kemudian aku dapat lagi pesan dalam bahasa arab yang lain. Aku menanyakan arti pesan tersebut kepada teman-teman di internet dan mereka mengatakan bahwa itu adalah pesan dari ibunya yang sedang memaki-maki aku.
Aku syok, apa yang sedang terjadi padaku dan Hana. Kemudian aku menerima sebuah email dari seorang teman Hana yang mengatakan bahwa Hana sedang dikurung di sebuah kamar karena menolak untuk menikahi sepupunya dan dia tidak bisa menghubungi aku lagi karena ibunya membaca seluruh pesan yang aku kirim padanya. Teman Hana menyarankan aku untuk melupakan Hana dan dia akan mengatakan pada Hana bahwa aku akan melupakannya karena aku mencintainya. Tetapi aku membalasnya aku tidak akan pernah melupakan Hana.
Setelah hari itu Hana meneleponku dan mengatakan ibunya sedang di kamar mandi. Dia menggunakan hp untuk menelepon dan menceritakan kodisinya yang sedang sakit. Ibunya datang dari Mecca dan dia sedang di Abha kota yang lain.
Setelah aku menerima email darinya dia akan pergi ke Mecca dan dia akan menghubungi aku dari sana dan mengatakan dia hanya akan menikah denganku diluar dari pada itu dia akan mati. Setelah beberapa hari kemudian temannya mengirim email bahwa Hana telah menikah dan dia sedang di Jeddah-
karena ibunya berbohong padanya dan membawanya ke Jeddah dan dia menikah sekarang. Hari berikutnya aku mendapat informasi kalau suami Hana memukulnya karena Hana tidak ingin disentuh dan sedang dirawat di rumah sakit University Hospital Jeddah dalam keadaan sedang koma.
Aku hanya bisa berdoa untuknya dan beberapa hari kemudian teman Hana mengatakan mata Hana sudah terbuka dan dia akan baik-baik saja segera. Tapi hari berikutnya, tepatnya pada malam hari aku mendapat sebuah pesan dari HP Hana yang ditulis dalam bahasa Arab.
Aku menanyakan arti pesan tersebut kepada beberapa orang di internet dan mereka mengatakan bahwa isi pesan tersebut adalah Hana sudah meninggal.
Aku mengirim email balasan ke teman Hana dan dia mengatakan hal yang sama kalau Hana sudah meninggal. Aku memaksa dia untuk memberi tahu aku nama rumah sakitnya. Dia memberi tahukan aku dan aku menelpon ke sana tapi pihak rumah sakit mengatakan mereka tidak punya pasien bernama Hana.
Aku menanyakan kenapa tidak ada nama Hana di rumah sakit itu dia bilang ini adalah perilaku kekerasan dan suami Hana dipenjara karena itu pihak rumah sakit menyembunyikan identitas Hana. Setelah itu aku selalu berdoa kepada Tuhan tetapi Hana tidak pernah lagi menghubungiku.
Aku masih belum yakin apakah aku mencintainya atau tidak tetapi aku selalu menangis saat-saat aku berpikir bahwa aku telah membunuh Hana jika benar Hana mati hanya karena dia mencintaiku. Aku selalu bertanya ke orang-orang Arab apakah di antara mereka ada yang mengenal seorang yang bernama Hana tetapi mereka semua menjawab tidak tahu.

0 komentar: